Sinarmerdeka.co, Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 menjadi momentum penting bagi insan pers untuk meneguhkan perannya sebagai penjaga demokrasi sekaligus pilar perdamaian dunia. Hal ini tercermin dalam agenda internasional yang digelar Forum Wartawan Jaya Indonesia bersama World Peace Organization pada 2–3 Mei 2026 di Cisarua, Bogor, dengan tema “Peace is Action, Peace is a Must.”
Presiden WPO, Bambang Herry Purnomo, menegaskan bahwa kolaborasi antara WPO dan FWJ Indonesia bukanlah kebetulan. Menurutnya, pers dan perdamaian merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
“Jurnalis bukan sekadar pencatat peristiwa, tetapi penjaga denyut nadi demokrasi. Perdamaian bukan hanya wacana, melainkan kerja nyata—dimulai dari menjaga kebenaran tetap hidup,” tegasnya.
Kegiatan ini berlangsung pada 2–3 Mei 2026 di kawasan Cisarua, Bogor, dalam rangka menyambut Hari Kebebasan Pers Sedunia yang diperingati setiap 3 Mei.
Dalam sambutannya, Bambang menyoroti berbagai tantangan serius yang dihadapi dunia pers saat ini, mulai dari derasnya disinformasi yang melampaui kecepatan fakta, ancaman digital terhadap jurnalis, hingga tekanan ekonomi yang dapat mengganggu independensi media.
(Upaya & Komitmen)
Menjawab tantangan tersebut, WPO bersama FWJ Indonesia merumuskan tiga komitmen utama:
Press Freedom is Peace Freedom — memperjuangkan perlindungan jurnalis dari kriminalisasi.
Ethical Journalism is Peace Journalism — menjaga kebebasan pers dengan etika, akurasi, dan keberimbangan.
Solidarity for Truth — memperkuat solidaritas dalam menyajikan fakta berbasis data dan investigasi.
Bambang juga mengingatkan bahwa setiap karya jurnalistik yang jujur dari Indonesia akan menjadi cermin bagi dunia. “Jika pers Indonesia sehat dan damai, maka dunia pun ikut merasakan dampaknya,” ujarnya.
Ia menambahkan, WPO memilih “jalan pendek” menuju perdamaian, yakni melalui dialog, musyawarah, dan saling menghargai, dibandingkan konflik berkepanjangan yang mahal dan berdarah.

Pers Sehat, Pers Bermartabat
Sementara itu, Ketua Umum FWJ Indonesia, Mustofa Hadi Karya**, menekankan pentingnya membangun ekosistem media yang sehat dan bermartabat di tengah era digital.
Menurutnya, kolaborasi antar insan pers tidak boleh berhenti pada seremoni semata, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata untuk menciptakan iklim pers yang independen dan berintegritas.
“Pers harus berani menyoroti sisi gelap kekuasaan, mengungkap ketidakadilan, dan memastikan transparansi bukan sekadar jargon,” tegas pria yang akrab disapa Opan.
Ia juga mengibaratkan pers sebagai mata dan telinga publik yang menangkap suara akar rumput—tanpa pers, masyarakat akan kehilangan arah dalam memahami realitas.
Jurnalisme sebagai Jembatan Perdamaian

Dukungan internasional turut mengalir dari Wakil Presiden WPO Zona Eropa, Rabit Sadiku, yang menyampaikan apresiasi secara virtual.
Ia menilai FWJ Indonesia telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjaga marwah profesi jurnalis di tengah tantangan global.
“Kebebasan pers adalah keberanian menyampaikan kebenaran secara etis dan mampu menghadirkan perdamaian,” ujarnya.
Sadiku menegaskan, di tahun 2026, jurnalisme harus mampu menjadi jembatan antarbangsa—menghadirkan informasi akurat sebagai instrumen untuk meredam konflik dan menyatukan perbedaan demi kesejahteraan bersama.












