Berita TerkiniHeadline

Mikroplastik Laut Dalam di Barnakel: Temuan BRIN Jadi Alarm Pencemaran

×

Mikroplastik Laut Dalam di Barnakel: Temuan BRIN Jadi Alarm Pencemaran

Sebarkan artikel ini
mikroplastik laut dalam
mikroplastik laut dalam

Kehidupan Laut Dalam yang Ternyata Tercemar

Di kedalaman 200 meter bawah Laut Maluku utara dan Laut Filipina barat daya, kehidupan berlangsung dalam sunyi, gelap, dan dingin. Di sana, barnakel kecil berkulit keras menempel di pelampung tambat (mooring buoy) dan hidup tanpa pernah berpindah tempat. Namun, penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap kenyataan mengejutkan: hampir sepertiga barnakel di wilayah tersebut mengandung mikroplastik laut dalam.


Barnakel Jadi Saksi Bisu Pencemaran

Barnakel adalah hewan laut invertebrata yang menempel seumur hidup di satu titik. Mereka menyaring air laut untuk makan plankton. Sayangnya, jika air yang disaring mengandung mikroplastik, partikel itu otomatis ikut masuk ke tubuhnya. Penelitian ini menjadi dokumentasi pertama mikroplastik di barnakel laut dalam pada wilayah Arus Lintas Indonesia (Indonesian Throughflow), jalur penting yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia serta memengaruhi iklim global.


Jenis Mikroplastik dan Sumbernya

Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa partikel nilon mendominasi kontaminasi. Jenis ini umum digunakan dalam jaring ikan dan tali-temali laut. Selain nilon, ditemukan juga polimer polyvinylidene fluoride dan poliamida. Sumber mikroplastik tersebut diduga berasal dari aktivitas perikanan, terutama alat tangkap yang hilang, serta partikel lintas batas yang terbawa arus laut antarnegara. Fakta ini menegaskan bahwa laut dalam pun tidak terlindungi dari dampak plastik sekali pakai.


Mikroplastik: Masalah Global yang Tak Terlihat

Mikroplastik berukuran kurang dari 5 milimeter sering kali tidak terlihat mata manusia, tetapi sangat mudah masuk rantai makanan laut. Penelitian dunia membuktikan partikel ini ada di tubuh ikan, kerang, hingga air minum. Kini, barnakel di kedalaman laut Indonesia juga menyimpannya. Walau barnakel tidak dikonsumsi langsung, mereka bagian dari rantai ekosistem laut. Pada akhirnya, mikroplastik berpotensi berpindah ke organisme lain hingga ke piring makan manusia.


Peneliti BRIN: Alarm untuk Semua

Muhammad Reza Cordova, Profesor Riset BRIN, menegaskan bahwa temuan ini adalah alarm keras. Laut dalam yang selama ini banyak yang menilai  aman ternyata juga terpapar plastik. Karena Arus Lintas Indonesia menghubungkan dua samudra, pencemaran yang masuk berpotensi terbawa ribuan kilometer. Reza mengingatkan, plastik yang terbuang hari ini bisa pecah menjadi mikroplastik, hanyut jauh, masuk ke tubuh hewan laut, lalu kembali ke manusia.


Tantangan Penelitian di Laut Dalam

Mengumpulkan data di laut dalam bukan hal mudah. Tim BRIN memanfaatkan mooring buoy sebagai rumah barnakel. Setelah setahun, pelampung terangkut menggunakan kapal riset untuk kemudian menganalisisnya di laboratorium. Proses identifikasi membutuhkan teknologi khusus, seperti Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), guna menentukan jenis polimernya. Hasilnya membuktikan bahwa kontaminasi mikroplastik laut dalam nyata dan serius.


Harapan ke Depan

Penelitian BRIN ini baru langkah awal. Studi lanjutan akan untuk memahami seberapa besar dampak mikroplastik terhadap kesehatan laut dan manusia. Namun, Reza menegaskan, data saja tidak cukup. Butuh kebijakan tegas, pengelolaan sampah yang lebih baik, dan kesadaran masyarakat untuk mengurangi plastik sekali pakai. Jika tidak, laut dalam akan terus menyimpan jejak plastik, bukan plankton.


Kesimpulan

Barnakel laut dalam kini menjadi saksi bisu dari pencemaran plastik yang menjalar hingga ke kedalaman laut. Temuan mikroplastik laut dalam ini bukan sekadar data ilmiah, melainkan peringatan global. Masa depan laut ada di tangan kita: terus membuang plastik, atau mulai berubah menjaga bumi dari kedalaman hingga permukaan.