HeadlineInternasional

Efek Reformasi Pajak GST India, Narendra Modi Gerakkan Kembali “Bangga Pakai Produk Sendiri “

×

Efek Reformasi Pajak GST India, Narendra Modi Gerakkan Kembali “Bangga Pakai Produk Sendiri “

Sebarkan artikel ini
Reformasi Pajak GST India
Reformasi Pajak GST India

Awal bulan ini, Perdana Menteri India Narendra Modi berjanji menghadirkan hadiah Hari Raya Diwali berupa “kejutan pajak besar” untuk rakyat dan jutaan pelaku usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi terbesar ketiga di Asia.

Dengan sorban saffron cerah, Modi berbicara dari Benteng Merah Delhi saat perayaan Hari Kemerdekaan. Ia mengajak masyarakat untuk bangga dengan produk lokal dan memasang papan bertuliskan Swadeshi atau Made in India. Pesannya jelas: “Mari berdikari bukan karena terpaksa, melainkan karena kebanggaan.”

Dampak Tarif AS dan Ajakan Konsumsi Lokal

Pidato Modi tak bisa dilepaskan dari kebijakan Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan tarif 50% terhadap India per 27 Agustus. Kebijakan ini mengancam jutaan tenaga kerja di industri ekspor, mulai dari tekstil, berlian, hingga udang.

Di tengah ancaman itu, Modi menekankan pentingnya membuat di India dan membelanjakan di India. Namun, meskipun berbagai subsidi sudah digulirkan, kontribusi manufaktur terhadap PDB India masih stagnan di angka 15%.

Reformasi Pajak GST India

Sebagai solusi, Modi mendorong reformasi pajak yang sudah lama di nanti Rakyat India . Setelah pemotongan pajak penghasilan senilai 12 miliar dolar AS, kini ia menargetkan penyederhanaan Pajak Barang dan Jasa (GST). Pajak ini sebelumnya bakal sebagai penyederhana regulasi, tetapi terlalu banyak pengecualian sehingga membingungkan.

Kementerian Keuangan India kini menyiapkan skema GST dua lapis. Analis dari Jeffries menilai, kombinasi pemotongan pajak penghasilan dengan reformasi pajak GST India senilai 20 miliar dolar AS akan memberi dorongan nyata pada konsumsi domestik.

Konsumsi Jadi Penopang PDB

Konsumsi rumah tangga menyumbang hampir 60% terhadap PDB India. Walau belanja pedesaan tetap kuat berkat panen raya, permintaan di kota melemah karena gaji rendah dan pemutusan kerja di sektor IT.

Morgan Stanley menyebut, stimulus fiskal lewat reformasi pajak GST India dapat mempercepat pemulihan konsumsi, mendongkrak PDB, sekaligus menekan inflasi. UBS menambahkan, dampaknya lebih besar dibanding pemotongan pajak perusahaan karena langsung terasa di titik pembelian.

Sektor yang Untung

Sektor konsumen seperti skuter, mobil kecil, pakaian, hingga semen akan melonjak jelang Hari Raya Di wali . Meski ada potensi kehilangan pendapatan negara, analis memperkirakan hal itu tertutup oleh surplus pungutan dan dividen bank sentral.

Tak hanya itu, pemotongan GST juga bisa membuka peluang bank sentral India menurunkan lagi suku bunga, mendorong pinjaman, serta memperkuat daya beli. efek dari kenaikan gaji setengah juta pegawai negeri tahun depan, ekonomi India terprediksi tetap bertumbuh.

Respon Pasar dan Tantangan ke Depan

Pasar saham India menyambut positif. Bahkan, lembaga S&P Global memberikan upgrade peringkat utang India setelah 18 tahun, yang bisa menurunkan biaya pinjaman dan menarik investasi asing.

Namun, tantangan tetap berat. Pertumbuhan ekonomi melambat dari 8% beberapa tahun lalu, kemudian konflik dagang India-AS dan perbedaan sikap terhadap energi Rusia. Dengan tarif 50% yang hampir setara sanksi, hubungan dagang dua raksasa ekonomi dunia kian renggang.