Berita Terkini

Waspada Virus Nipah, Ancaman Mematikan yang Mengintai Tanpa Gejala Awal Jelas

×

Waspada Virus Nipah, Ancaman Mematikan yang Mengintai Tanpa Gejala Awal Jelas

Sebarkan artikel ini
Waspada Virus Nipah, Ancaman Mematikan yang Mengintai Tanpa Gejala Awal Jelas
Waspada Virus Nipah, Ancaman Mematikan yang Mengintai Tanpa Gejala Awal Jelas

Sinarmerdeka.co – Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia kesehatan global. World Health Organization (WHO) menempatkan penyakit ini sebagai salah satu prioritas karena berisiko tinggi memicu wabah dengan tingkat kematian yang besar.

Dr. Jusuf Kristianto, MPH, PhD, ahli kesehatan masyarakat dan pemerhati kesehatan, mengingatkan bahwa kewaspadaan masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman ini. Meski hingga kini belum ditemukan kasus pada manusia di Indonesia, sejumlah penelitian menunjukkan virus Nipah telah terdeteksi pada kelelawar buah di beberapa wilayah.

Apa Itu Virus Nipah?

Virus Nipah merupakan virus RNA dari keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus. Penyakit ini bersifat zoonotik, artinya dapat menular dari hewan ke manusia. Pembawa utamanya adalah kelelawar buah (Pteropus spp.).

Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1998 di Malaysia. Sejak itu, kasus tercatat di sejumlah negara seperti Bangladesh, India, Malaysia, Filipina, dan Singapura, dengan tingkat fatalitas mencapai 40 hingga 75 persen.

“Angka kematian yang tinggi inilah yang membuat virus Nipah sangat diperhatikan dunia internasional,” ujar Dr. Jusuf.

Gejala Awal Sering Dianggap Sepele

Gejala awal infeksi sering menyerupai penyakit umum: demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Namun kondisi dapat berkembang cepat menjadi lebih serius.

Pada tahap lanjut, penderita bisa mengalami pusing, kebingungan, penurunan kesadaran, hingga kejang. Komplikasi berat berupa radang otak (ensefalitis) dan gangguan pernapasan dapat berujung fatal.

Dr. Jusuf mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai tanda sederhana yang mudah diingat dengan istilah “5L”: lesu, letih, lemah, lelah, dan lunglay.

“Jika gejala berat muncul setelah ada riwayat kontak berisiko, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” tegasnya pada Kamis, 19 Februari 2026 di Politeknik Kesehatan Jakarta 1, Jakarta Selatan.

Cara Penularan

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, terutama kelelawar dan babi. Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, seperti buah yang terkena liur kelelawar atau nira mentah, juga berisiko.

Selain itu, penularan antar manusia dimungkinkan melalui cairan tubuh, termasuk droplet, darah, dan urine.

Belum Ada Vaksin

Hingga kini belum tersedia vaksin atau obat spesifik untuk virus Nipah. Penanganan bersifat suportif, yakni mengatasi gejala dan menjaga fungsi vital pasien. Isolasi ketat di fasilitas kesehatan menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran.

Karena itu, pencegahan menjadi benteng utama. Menghindari kontak dengan hewan liar atau ternak sakit, mencuci buah sebelum dikonsumsi, tidak meminum nira mentah, serta menerapkan kebersihan tangan dan penggunaan masker dalam situasi berisiko sangat dianjurkan.

Waspada, Bukan Panik

Dr. Jusuf menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik, namun harus meningkatkan kewaspadaan.

“Virus Nipah memang berbahaya, tetapi bisa dicegah dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Edukasi serta kewaspadaan dini jauh lebih efektif dibanding kepanikan,” ujarnya.

Dengan mobilitas global yang tinggi, ancaman penyakit menular baru selalu ada. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan makanan, lingkungan, serta respons cepat terhadap gejala mencurigakan menjadi kunci agar Indonesia tetap aman dari potensi wabah mematikan ini.