Kandidat Kuat Pengganti Kluivert
Rekam jejak Giovanni van Bronckhorst kembali ramai dibahas setelah namanya masuk dalam daftar calon pelatih baru Timnas Indonesia. Tidak hanya itu, rekam jejak Giovanni van Bronckhorst dianggap relevan dengan kebutuhan skuad Merah Putih yang ingin tampil lebih agresif. Karena itu, publik langsung menyoroti kiprahnya sejak awal karier kepelatihan.
Awal Karier Bersama Feyenoord
Perjalanan panjangnya dimulai ketika ia menjadi tangan kanan Ronald Koeman dan Fred Rutten di Feyenoord pada 2011–2015. Selain itu, Van Bronckhorst juga menangani Feyenoord II pada 2012–2013. Saat itu, rekam jejak Giovanni van Bronckhorst menunjukkan progres signifikan yang membuat manajemen klub percaya penuh.
klik di sini untuk melihat cek update cuaca di kotamu
Giovanni van Bronckhorstdi Eredivisie
Pada 2015–2019, Van Bronckhorst mendapat mandat sebagai pelatih utama Feyenoord. Ia memimpin 176 pertandingan dan mencatat 109 kemenangan, 24 imbang, serta 43 kekalahan. Lebih dari itu, ia mempersembahkan gelar Eredivisie 2016/2017, Piala KNVB 2015/2016 dan 2017/2018, serta Johan Cruyff Shield 2017 dan 2018. Tidak mengherankan jika rkepiawaian Giovanni van Bronckhorst pada periode itu menuai apresiasi luas.
Petualangan ke China dan Skotlandia
Setelah meraih banyak trofi, ia pindah ke Guangzhou R&F pada 2020. Namun, masa tugasnya hanya bertahan setahun dengan catatan delapan kemenangan, empat imbang, dan sebelas kekalahan. Kemudian, ia mencoba tantangan baru bersama Rangers FC pada 2021–2022. Hasilnya tidak main-main karena ia membawa Rangers menjuarai Piala Skotlandia 2021/2022 dan lolos ke final Liga Europa.
baca juga : Jay Idzes Starter Penuh, Sassuolo Imbang Dramatis Lawan Pisa
Episode Singkat di Besiktas dan Kiprah Terbaru
Pada 2024, Besiktas merekrutnya meski masa kepelatihannya hanya berlangsung sekitar empat bulan. Meski singkat, ia tetap mempersembahkan trofi Piala Super Turki 2024. Setelah itu, ia menjadi analis pertandingan UEFA hingga Arne Slot mengajaknya ke Liverpool sebagai asisten. Namun, posisinya kini tidak stabil karena performa Liverpool yang merosot ke peringkat ke-12 Premier League.












