Info Daerah

PT Multibreeder Adirama Indonesia Di Komplain Warga Sekitar Adanya Aroma Menyengat!

×

PT Multibreeder Adirama Indonesia Di Komplain Warga Sekitar Adanya Aroma Menyengat!

Sebarkan artikel ini
Oplus_16908288

SINARMERDEKA.CO Adanya aroma menyengat warga akhirnya angkat suara, Pro dan kontra pun terjadi peternakan di Kecamatan Gisting, PT Multibreeder Adirama Indonesia (Multi) justru menuai sorotan tajam.

Keberadaan perusahaan yang beroperasi di wilayah Campang, Gisting, Kabupaten Tanggamus itu kini dianggap menjadi sumber gangguan lingkungan yang nyata,

Seperti dari bau menyengat, debu beterbangan, hingga truk besar yang lalu-lalang hingga larut malam.

Dengan dalih membawa kesejahteraan bagi warga sekitar, aktivitas perusahaan yang kini lebih fokus memproduksi telur tetas dan anakan ayam (DOC) justru disebut menyulitkan kehidupan masyarakat kecil.

Warga mengaku lelah menahan bau yang menusuk hidung dan jalan kampung yang semakin rusak akibat lalu lintas kendaraan berat perusahaan.

Kalau siang, baunya luar biasa. Anak-anak sampai enggan keluar rumah. Ini sudah lama kami rasakan, tapi tidak ada tindakan nyata,” keluh salah satu warga Pekon Campang, kemarin.

Bahkan dirinya menambahkan, aroma kotoran dari area kandang kerap menyeruak ke rumah-rumah warga, terutama saat angin bertiup dari arah selatan.

“Kami ini manusia, bukan ayam. Tapi baunya bikin seolah kami hidup di tengah kandang,” sindirnya tajam.

Keluhan serupa datang dari warga lain yang merasa kenyamanan kampungnya kini direnggut oleh aktivitas industri.

“Truk-truk besar lewat siang malam, bahkan jam 11 malam masih ada yang lewat. Jalan rusak, debu berterbangan, dan kalau hujan, jalan jadi kubangan lumpur. Kami seperti tidak dianggap,” ujarnya dengan nada kesal.

Warga menegaskan bahwa mereka tidak menolak investasi, tetapi meminta perusahaan dan pemerintah daerah bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Kalau memang perusahaan besar, harusnya ada standar limbah yang jelas, bukan asal jalan. Kami cuma minta hak kami untuk hidup nyaman di rumah sendiri,” katanya.

Situasi ini semakin ironis karena produksi di perusahaan justru meningkat seiring fokus barunya pada telur tetas dan anakan ayam. Volume kandang bertambah, lalu lintas padat, namun sistem pengelolaan limbah justru disebut makin lemah.

“Ventilasi rumah sering kami tutup karena bau tak tertahankan. Kalau malam, udara makin pengap,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Sementara itu, menurut warga sekitar bernama Aan, masyarakat berencana mengambil langkah lebih tegas jika keluhan mereka terus diabaikan.

“Kami dalam waktu dekat jika tidak ada tanggapan, kami akan menghadap langsung ke bupati untuk menyampaikan aspirasi ini,” tegas Aan dengan nada kecewa. Jum’at (10/10/2025).

Aktivitas lingkungan dari Tanggamus, Suharni, S.Sos, menilai persoalan ini tak bisa dibiarkan berlarut.

“Perusahaan sebesar PT Multibreeder Adirama Indonesia tidak bisa berlindung di balik nama besar. Mereka harus tunduk pada etika sosial dan lingkungan.

Kalau benar ada bau dan limbah yang mencemari, itu berarti ada kelalaian yang serius,” tegas Suharni.

Dirinya mendesak agar dilakukan audit lingkungan dan inspeksi mendalam terhadap aktivitas operasional perusahaan di Campang.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Multibreeder Adirama Indonesia belum memberikan tanggapan resmi.

Namun, warga berharap bukan sekadar klarifikasi, melainkan tindakan nyata di lapangan.

“Kalau mereka memang peduli, datanglah ke kampung ini, hirup sendiri baunya, lihat jalan yang rusak karena truk mereka,” tutur Sari dengan nada getir.

Bahkan warga menahan napas dalam diam, sementara truk terus lalu-lalang, dan bau menyengat masih jadi tamu harian di udara Gisting.

“Jangan cuma bicara tentang produksi dan keuntungan. Bicarakan juga tentang polusi udara dan bau kami yang makin sesak,” pungkas warga Pekon Campang.