Sinarmerdeka.co – Ekonom politik Ichsanuddin Noorsy menilai perekonomian Indonesia sedang berada dalam fase yang mengkhawatirkan. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat disebut menjadi salah satu sinyal kuat bahwa tekanan ekonomi nasional semakin berat.
Pada perdagangan 27 Mei 2026, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp17.812 per dolar AS. Menurut Noorsy, kondisi tersebut menunjukkan Indonesia tengah bergerak dari fase “lampu kuning” menuju “lampu merah”.
“Saya sudah memprediksi sejak 2024 bahwa rupiah akan berada pada ambang psikologis Rp17.500 sampai Rp18.000,” kata Noorsy dalam podcast EdShareOn bersama Eddy Wijaya yang tayang Rabu (27/5/2026).
Pelemahan rupiah memicu kekhawatiran publik akan kemungkinan terulangnya krisis ekonomi seperti tahun 1998. Namun, Noorsy menilai situasi saat ini memiliki karakter yang berbeda dibanding krisis moneter saat itu.
Menurutnya, pada 1998 terjadi krisis kepercayaan publik yang berkembang menjadi krisis politik dan ekonomi secara bersamaan. Selain itu, lemahnya pengawasan sektor perbankan saat itu memperparah kondisi nasional.
“Saat ini memang sudah ada gejala ketidakpercayaan publik, tetapi belum berkembang menjadi ketidakpercayaan politik,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai tekanan terhadap ekonomi nasional terus meningkat. Cadangan devisa Indonesia tercatat mengalami penurunan selama empat bulan berturut-turut sejak Januari 2026. Di sisi lain, Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen guna menjaga stabilitas rupiah dari tekanan global.
Noorsy menegaskan bahwa dampak pelemahan rupiah tidak hanya terasa di pasar keuangan, tetapi mulai menghantam sektor riil. Kenaikan harga bahan baku impor, energi, hingga pangan dinilai berpotensi menurunkan daya beli masyarakat serta melemahkan aktivitas usaha, terutama UMKM.
Ia turut menyoroti penurunan angka Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia dari 50,1 menjadi 49,1 pada pertengahan Mei 2026. Angka tersebut berada di bawah batas netral 50 yang menandakan perlambatan aktivitas manufaktur.
“Kalau PMI sudah di bawah 50, artinya mesin produksi mulai melambat,” katanya.
Selain itu, Noorsy mengungkapkan tingginya angka undisbursed loan atau kredit yang belum dicairkan perbankan yang mencapai Rp2.527,46 triliun. Menurutnya, hal itu mencerminkan pelaku usaha memilih menahan ekspansi akibat ketidakpastian ekonomi.
“Pengusaha sudah mendapat fasilitas kredit, tetapi belum digunakan karena kondisi ekonomi belum pasti,” ujarnya.
Ia juga menilai sektor UMKM menjadi pihak yang paling terdampak. Hal tersebut terlihat dari rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) UMKM yang mencapai 4,61 persen, jauh di atas NPL korporasi yang berada di angka 1,6 persen.
“Yang paling terpukul justru sektor riil dan UMKM,” ucapnya.
Dalam pandangannya, pemerintah perlu melakukan pembenahan mendasar dalam pengelolaan ekonomi nasional. Noorsy menilai Indonesia terlalu bergantung pada sistem dan standar asing dalam merumuskan kebijakan ekonomi.
“Regulasi, standar, hingga ukuran kredibilitas kita banyak ditentukan oleh kepentingan asing,” katanya.
Lima Strategi Penguatan Ekonomi Nasional
Dalam kesempatan itu, Noorsy juga menawarkan lima pendekatan strategis untuk memperkuat fondasi ekonomi Indonesia. Gagasan tersebut, menurutnya, telah disampaikan kepada tim Presiden RI Prabowo Subianto.
Pendekatan pertama adalah pembangunan ekonomi berbasis sumber daya nasional (resource-based approach). Kedua, meningkatkan produktivitas nasional melalui reindustrialisasi pada sektor-sektor strategis.
“Kita harus memperkuat industri yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ketiga, memperkuat kelembagaan dan dukungan terhadap UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Keempat, memisahkan secara tegas struktur pasar antara sektor komersial dan sektor layanan publik agar kebijakan ekonomi lebih tepat sasaran.
Sementara pendekatan kelima adalah memperbaiki tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan bebas korupsi.
“Kepercayaan publik hanya bisa dibangun lewat pemerintahan yang jujur dan akuntabel,” tutup Noorsy.












