Sinarmerdeka.co – Insiden tragis terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, pada Senin (29/9) sore, ketika bangunan musala ambruk secara tiba-tiba. Hingga pukul 19.00 WIB, tercatat sebanyak 124 santri menjadi korban dalam kejadian tersebut. Satu santri dilaporkan meninggal dunia, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka dan tengah menjalani perawatan medis.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Jules Abraham Abast, menyampaikan bahwa aparat kepolisian bersama unsur gabungan masih terus melakukan proses evakuasi di lokasi kejadian. “Data per pukul 19.00 WIB, Polda Jatim menurunkan satu pleton Sabhara, satu pleton Brimob, serta didukung tiga SSK dari Polresta Sidoarjo. Puluhan korban sudah dievakuasi ke rumah sakit,” ujarnya.
Dari pendataan sementara, sebanyak 45 korban telah dilarikan ke RS Siti Hajar. Dari jumlah tersebut, 44 santri mengalami luka ringan hingga berat, dan satu santri dinyatakan meninggal dunia. Selain itu, 34 korban lainnya tengah mendapatkan perawatan di RSUD Sidoarjo.
“Jumlah pasti korban masih dalam proses pendataan. Evakuasi dan penyisiran reruntuhan bangunan masih berlangsung hingga malam ini,” jelas Abast.
Hingga saat ini, tim gabungan yang terdiri dari kepolisian, TNI, Basarnas, BPBD, serta relawan masih berada di lokasi kejadian. Mereka fokus mengevakuasi santri yang kemungkinan masih terjebak di bawah puing-puing bangunan musala yang ambruk.
Seorang saksi mata, Ustadz Ahmad, yang juga pengajar di Ponpes Al Khoziny, menceritakan detik-detik kejadian. “Tiba-tiba terdengar suara gemuruh keras, lalu bangunan musala runtuh. Banyak santri yang sedang berada di dalam musala saat itu. Kami langsung berusaha mengevakuasi mereka secepat mungkin,” ujarnya dengan suara bergetar.
Mengenai penyebab ambruknya musala, pihak kepolisian belum dapat memastikan. “Sabar dulu. Nanti kalau sudah selesai evakuasi semua, akan kami sampaikan lagi updatenya,” tegas Abast.
Kejadian ini menjadi duka mendalam bagi keluarga santri dan masyarakat sekitar. Proses evakuasi dan penanganan korban masih terus dilakukan untuk memastikan keselamatan semua yang terdampak.












