Eksbis

Ketegangan Geopolitik ‘Rupiah Melemah’ Rp16.855 per dolar AS

×

Ketegangan Geopolitik ‘Rupiah Melemah’ Rp16.855 per dolar AS

Sebarkan artikel ini
Oplus_16908288

SINARMERDEKA.CO-Bulan Januari 2026, nasib rupiah semakin tidak berdaya di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) hingga penutupan perdagangan Senin (12/1/2026).

Dikutip dari Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,21 persen atau 36 poin menjadi Rp16.855 per dolar AS.

Menurut Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS dipengaruhi sentimen pasar terhadap ketegangan geopolitik.

Ikut campurnya Presiden AS Donald Trump dalam urusan dalam negeri Iran membuat pasar mengkhawatirkan konflik regional lebih luas,” ujarnya. 

Sementara itu, Departemen Kehakiman AS mengancam akan mengenakan dakwaan pidana terhadap bank sentral AS, The Fed.

Ketua the Fed, Jerome Powell, mengatakan telah menerima panggilan pengadilan terkait kesaksiannya di Senat AS.

“Situasi tersebut mengguncang pasar yang khawatir akan independensi bank sentral,” ucap Ibrahim.

Di sisi lain, pasar tenaga kerja di AS yang melemah mendorong spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed pada tahun ini.

Menurut Ibrahim, lapangan kerja nonpertanian di AS hanya meningkat menjadi 50.000, di bawah perkiraan sebanyak 66.000. Sedangkan tingkat pengangguran turun tipis dari 4,5 persen menjadi 4,4 persen.

Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati data penjualan eceran yang dirilis Bank Indonesia.

Dilaporkan penjualan eceran yang tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) pada November 2025 tumbuh 6,3 persen secara tahunan.

Hal ini ditopang kenaikan penjualan kelompok suku cadang dan aksesori, makanan, minuman, serta Tembakau. Serta kenaikan penjualan barang budaya dan rekreasi serta bahan bakar kendaraan bermotor.

Pada Desember 2025, BI memperkirakan kinerja penjualan eceran akan melambat dan hanya tumbuh 4,4 persen.

Ini ditopang oleh kelompok peralatan informasi dan komunikasi, serta barang budaya dan rekreasi.

Pertumbuhan penjualan eceran per Desember 2025 juga ditopang penjualan perlengkapan rumah tangga lainnya serta makanan, minuman, dan tembakau.

“Hal ini sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat saat Natal dan Tahun Baru,” kata Ibrahim, menutup analisisnya.