Berita Terkini

GPS dan IoT: BRIN Ungkap Ancaman Akurasi Satelit dan Risiko Keamanan Digital

×

GPS dan IoT: BRIN Ungkap Ancaman Akurasi Satelit dan Risiko Keamanan Digital

Sebarkan artikel ini
risiko GPS dan IoT
risiko GPS dan IoT

Perkembangan teknologi satelit dan jaringan pintar terus melaju, namun para ahli kembali mengingatkan bahwa risiko GPS dan IoT makin kompleks. Karena itu, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN, Slamet Supriyadi, memaparkan hasil riset terbarunya mengenai akurasi GPS dan sistem navigasi berbasis satelit dalam Webinar PRMC #07 bertajuk “Securing the Signals: From IoT Networks to GPS Instrumentation.”


GPS Berbasis Satelit dan Tantangan Akurasi

Slamet menjelaskan bahwa GPS menggunakan setidaknya 24 satelit yang awalnya hanya berkembang di militer Amerika Serikat. Namun, seiring banyak negara mengadopsi teknologi ini untuk sipil, muncul kebutuhan agar kesalahan (error) navigasi bisa ditekan mendekati tingkat militer. Karena itu, berbagai inovasi dilakukan, salah satunya dengan memanfaatkan satelit Geostasioner (Geo).

klik ini untuk melihat update cuaca

Menurut Slamet, satelit Geo berada pada ketinggian 35 ribu km dan terus berada di titik yang sama mengikuti rotasi bumi. “Saat bumi berputar, satelit Geo tetap di atas kepala kita, sehingga mampu memberikan koreksi sinyal secara terus-menerus,” ujarnya.

Selain Geo, ada dua lintasan lain yang digunakan satelit komunikasi, yaitu Middle Earth Orbit (MEO) dan Low Earth Orbit (LEO). Ketiganya memiliki karakteristik berbeda dan memengaruhi keakuratan navigasi.


Enam Gangguan Utama GPS Menurut BRIN

Slamet kemudian menguraikan enam persoalan besar pada GPS:

  1. Delay sinyal akibat hambatan ionosfer dan troposfer.

  2. Pantulan sinyal yang menyebabkan penguatan dan pelemahan acak.

  3. Interferensi, yang mengacaukan hitungan posisi.

  4. Jamming, terutama di wilayah konflik.

  5. Spoofing, yaitu pemalsuan sinyal satelit.

  6. Multipath, yang membuat sinyal tiba lebih lambat dan mengurangi akurasi.

Melalui rangkaian persoalan ini, ia menegaskan bahwa risiko GPS dan IoT perlu diantisipasi sejak awal.


Ledakan IoT dan Ancaman Siber yang Mengintai

Pada sesi berikutnya, Ketua Prodi Magister Sistem Informasi Telkom University, Muharman Lubis, mengulas pesatnya perkembangan IoT. Kini tercatat lebih dari 55 miliar perangkat IoT aktif di berbagai sektor, mulai rumah tangga hingga industri.

Menurutnya, pertumbuhan IoT global makin masif, terutama karena banyak perangkat fisik kini mengumpulkan dan bertukar data secara otomatis tanpa campur tangan manusia. Namun, ia mengingatkan bahwa perkembangan tersebut dibarengi lonjakan ancaman digital.


Serangan Siber Naik Drastis

Muharman menyebut bahwa pada 2020 dan 2001 tercatat lebih dari 1,5 miliar serangan siber di seluruh dunia. Saat ini, setiap perangkat yang terhubung ke internet pasti berpotensi menjadi target. “Perbedaannya hanya pada tingkat intensitas dan jenis serangannya,” ujarnya.

Karena itu, ia menegaskan bahwa konsep keamanan kini harus bergeser dari defense ke resilience. Institusi wajib membangun sistem yang bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga cepat pulih ketika serangan terjadi.


Kelemahan IoT: Password Bawaan dan Update yang Jarang

Ia menyoroti banyaknya perangkat IoT yang memakai default password dari pabrik. Kondisi tersebut memberi peluang bagi malware seperti Mirai, yang memindai perangkat dengan keamanan lemah untuk diambil alih.

Ia memberi contoh perangkat rentan seperti smart TV, voice assistant, hingga doorbell digital. Banyak pengguna yang tidak pernah memperbarui perangkatnya, sehingga celah keamanannya makin lebar.

baca juga : Gelombang Anak Bangsa Menguatkan Desa Bersama Astra

Karena itu, pengguna IoT wajib mengaktifkan 2FA/MFA, memakai password kuat, dan rutin memantau aktivitas login mencurigakan. Dengan begitu, risiko GPS dan IoT dapat terminimalisir secara signifikan.


IoT Menuju Ekosistem Besar Berbasis 5G

Muharman menambahkan bahwa IoT kini berkembang menjadi ekosistem raksasa, termasuk pada sektor kesehatan, industri, dan rumah pintar. Dengan dukungan teknologi 5G, banyak harapan bahwaIoT  mampu meningkatkan kualitas hidup melalui otomatisasi yang lebih cerdas.

Namun, ia kembali mengingatkan bahwa masyarakat perlu memahami risiko GPS dan IoT sejak dini agar teknologi tidak berubah menjadi ancaman.