JAKARTA/NEW YORK – Indonesia menorehkan sejarah baru di panggung diplomasi iklim dunia. Zagy Berian, tokoh muda perubahan iklim Indonesia, resmi bergabung dengan Youth Advisory Group on Climate Change Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Ia menjadi satu-satunya wakil Asia Tenggara di kelompok penasihat muda yang kini beranggotakan 14 orang dari berbagai negara.
Pengumuman ini bertepatan dengan Hari Internasional Pemuda, yang tahun ini hadir di momentum penting aksi iklim global. Tahun 2025 menandai satu dekade Paris Agreement dan menjadi batas waktu semua negara untuk menyerahkan rencana aksi iklim nasional terbaru (NDC) yang sesuai target 1,5°C.
Sekjen PBB memperluas jumlah anggota dari tujuh menjadi 14 orang. Langkah ini menjawab tantangan global seperti penyempitan ruang gerak sipil dan minimnya pendanaan untuk aktivis muda. “Lebih banyak ruang bagi suara muda di meja perundingan, lebih banyak kepemimpinan pemuda, dan lebih banyak aksi iklim. Kepada anak muda di seluruh dunia, jangan menyerah!” tegas Guterres.
Sebagai wakil Asia Tenggara—kawasan yang sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut dan cuaca ekstrem—Zagy membawa pengalaman lokal sekaligus jaringan internasional. Pendiri Society of Renewable Energy (SRE) ini konsisten memberdayakan pemuda di bidang energi bersih dan keberlanjutan.
Kiprahnya meluas hingga tingkat global. Ia menjabat sebagai Regional Facilitator untuk Youth Climate Justice Fund di Asia Selatan, terlibat dalam G20 Energy Transition Working Group, B20 Task Force on Energy, Sustainability, and Climate, serta memimpin Southeast Asia Youth Forum on Energy di bawah ASEAN.
“Bagi saya, ini berarti mendorong kolaborasi besar untuk aksi iklim, sambil memastikan setiap suara pemuda terdengar,” ujar Zagy. Salah satu program unggulan “tokoh muda perubahan iklim Indonesia adalah edukasi energi terbarukan di Pati, Jawa Tengah, yang memadukan teknologi energi bersih dengan pertanian berkelanjutan.
Selain Zagy, 13 anggota lain berasal dari Makedonia Utara, Barbados, Swedia, Bangladesh, Kenya, Bolivia, Amerika Serikat, Jerman, Samoa, Afrika Selatan, Brasil, dan Polandia.












