SINAR MERDEKA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) KPPG Tati Novianty bicara terkait perempuan sebagai pilar strategis dalam arsitektur kekuasaan baru Partai Golkar.
Maka, Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) menegaskan posisinya sebagai pilar strategis tersebut.
“KPPG bukan sekadar elemen pelengkap dalam struktur partai,” Tati Novianty dalam keterangan yang diterima, Selasa 16 Desember 2025.
Saat membuka Orientasi Pelatihan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Kader Perempuan Partai Golkar.
Orientasi mengusung tajuk mendalam: “Politik Perempuan, Kekuasaan, dan Masa Depan Partai Golkar.”
Menurut Novianty, agenda pelatihan ini melampaui seremoni formal.
Momentum ini disebutnya sebagai titik tolak konsolidasi kesadaran politik di kalangan kader perempuan Golkar.
Utamanya dalam mengantisipasi konstelasi demokrasi menuju Pemilu 2029.
“Partai Golkar tidak dapat mengklaim kemenangan masa depan tanpa partisipasi perempuan yang terorganisir.”
“KPPG hadir bukan sekadar memenuhi kuota tetapi sebagai pilar vital kekuatan politik Golkar di kancah nasional,” ujar Novianty.
Perempuan sebagai Subjek Kekuasaan
Novianty menyoroti kecenderungan historis penempatan perempuan sebagai objek kebijakan, alih-alih subjek pengambil keputusan dalam arena politik.
Ia menekankan bahwa tanpa perspektif yang utuh dari perempuan, arsitektur kekuasaan politik akan selalu rentan terhadap ketimpangan.
“Kekuatan suatu negara dan partai politik diukur dari kemampuannya mengorganisir seluruh potensi sosial yang dimiliki,” kata dia.
“Perempuan bukan hanya entitas pemilih, melainkan pembentuk opini publik, penggerak inti keluarga, dan perekat komunitas. Inilah fondasi filosofis yang mengukuhkan eksistensi KPPG.”
Ia menambahkan, Partai Golkar, sebagai entitas politik modern, menyadari bahwa representasi perempuan merupakan keniscayaan strategis.
Hal ini bukan hanya didorong oleh tuntutan regulasi elektoral, melainkan kebutuhan esensial untuk membangun kekuasaan politik yang berkelanjutan.
Posisi KPPG dalam Konstelasi Politik
Dalam paparannya, Tati menguraikan posisi KPPG yang dinilai unik dan strategis dalam menopang arsitektur kekuasaan Partai Golkar.
Secara demografis, perempuan mewakili separuh populasi dan basis pemilih di Indonesia.
Di sisi lain, KPPG didukung oleh jaringan organisasi yang terstruktur hingga unit terkecil di daerah.
Ketika KPPG bergerak dalam koordinasi yang presisi, Partai Golkar otomatis memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh rival-rival politiknya.
“Ini adalah mesin politik-sosial yang dirancang untuk bekerja secara efektif dari tingkat akar rumput (bottom-up),” jelasnya.
Menjawab tantangan politik ke depan, Novianty memprediksi bahwa lanskap demokrasi Indonesia akan ditandai oleh kompetisi yang semakin ketat, digitalisasi, dan kuatnya peran persepsi publik.
Dalam konteks ini, perempuan, secara inheren, memiliki keunggulan dalam aspek empati sosial, kedekatan dengan komunitas, dan legitimasi moral.
Oleh karena itu, pelatihan ini mengambil peran strategis untuk memastikan kader perempuan Golkar bertransformasi menjadi subjek kekuasaan.
“Yang siap memimpin, berani mengambil keputusan sulit, dan mampu mendistribusikan pengaruh politik,” tandasnya.
Konsolidasi Menuju Pemilu 2029
Menatap Pemilu 2029, Tati menegaskan bahwa KPPG diinstruksikan untuk berfungsi ganda.
Sebagai mesin konsolidasi pemilih perempuan dan sebagai sentra kaderisasi calon pemimpin serta calon legislatif (caleg) perempuan.
Selain itu, KPPG harus menjadi jembatan efektif yang menghubungkan kebijakan strategis partai dengan kebutuhan riil perempuan di tengah masyarakat.
Pelatihan ini adalah investasi politik jangka panjang.
“Kita sedang membangun arsitektur kekuatan perempuan Golkar secara terintegrasi, yang dampaknya melampaui peningkatan keterampilan individu,” ujarnya.
Novianty menutup dengan menekankan pentingnya disiplin dan kesatuan komando.
Ia menilai, energi besar kader perempuan di tingkat daerah harus disalurkan dalam satu barisan (satu komando) dengan target dan arah yang jelas.
“Disiplin organisasi bukan instrumen untuk membatasi inisiatif, melainkan prasyarat untuk memastikan seluruh energi kolektif bergerak menuju satu tujuan kemenangan Partai Golkar,” pungkasnya.












