SINARMERDEKA.CO-Pemkab Tanggamus berkolaborasi dengan Rainforest Alliance (RA) dan Asia Makmur berkomitmen untuk memulihkan lingkungan dan meningkatkan ekonomi masyarakat dengan pemberian bibit kopi.
Kerja sama yang ditandai melalui proyek Addressing Deforestation and Livelihoods Through Inclusive Coffee Supply Chains (RESOLVE) ini didukung juga oleh Kementerian Perekonomian Belanda (RVO).
Adanya Kolaborasi ditandai dengan penyerahan 71 ribu bibit kopi dan 10 ribu tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) oleh Pemkab Tanggamus, STDB (Surat Tanda Daftar Budi Daya) oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan, dan bibit tanaman konservasi Dinas Lingkungan Hidup kepada petani dan kelompok tani, Kamis (21/1).
Pembenahan lingkungan ini dilaksanakan mengingat produksi kopi diperkirakan menurun akibat perubahan pola cuaca dan perubahan iklim yang mengakibatkan rendahnya jumlah dan kualitas hasil panen, praktik pertanian yang tidak berkelanjutan serta kurangnya akses terhadap modal.
Selain itu, produksi kopi juga menghadapi pembagian risiko yang tidak merata dalam rantai pasokan yang menempatkan petani pada posisi rentan untuk menanggung sebagian besar risiko, kurangnya peran perempuan dalam produksi kopi, serta kurangnya akses terhadap sumber daya, pendapatan, dan pengambilan keputusan.
Bupati Tanggamus Saleh Asnawi menyatakan bahwa Kabupaten Tanggamus memiliki peran strategis dalam pengembangan kopi rakyat, khususnya kopi robusta yang luas areanya mencapai 41.523 hektare.
“Saya berharap, kopi yang dibagikan hari ini benar-benar ditanam pada lahan yang sesuai, dirawat dengan baik, dan dikelola secara bertanggung jawab.
Dengan pendampingan yang berkelanjutan, kita optimistis produktivitas kopi di Tanggamus dapat terus meningkat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan,” ujar Asnawi dalam pernyataan, Rabu.28/1/2026
Menurut bupati luasnya daerah produksi kopi robusta di Tanggamus yang mencapai 33.796 ton per tahun dan melibatkan lebih dari 41 ribu kepala keluarga, menunjukkan kopi bukan hanya sekadar komoditas.
“Kopi merupakan urat nadi pekenomian masyarakat perdesaan Tanggamus,” ujar Asnawi.
Team Manager Coffee Rainforest Alliance Indonesia Intan Fardinatri menyatakan bahwa wilayah dengan potensi besar dalam pengembangan produksi kopi memerlukan strategi yang mampu menjawab dua kebutuhan utama pada perkebunan kopi, yaitu pemulihan lingkungan sebagai mitigasi deforestasi, serta peningkatan ekonomi masyarakat.
“Karena dalam beberapa tahun terakhir terjadi tekanan terhadap kawasan hutan dan lingkungan, termasuk praktik pembukaan lahan yang tidak terencana, sehingga berdampak pada peningkatan laju deforestasi,” ujar Intan.
Intan menambahkan pemberian bibit kopi ini dapat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga, mengingat masyarakat seringkali terdorong melakukan pemanfaatan lahan secara tidak berkelanjutan.
“Kegiatan pembagian bibit diharapkan dapat memperluas areal tanam kopi, meningkatkan produksi dan produktivitas, serta mendorong masyarakat untuk melakukan budidaya kopi pada lahan-lahan yang sesuai, sehingga dapat menekan praktik perambahan hutan,” katanya.
Sementara itu, Yale Environmental Performance Index menyatakan Indonesia menjadi negara dengan tingkat kehilangan tutupan pohon tertinggi di dunia, yaitu peringkat 142 dari 168 negara.
Kehilangan hutan di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu penebangan liar, pembukaan lahan untuk pertanian, perkebunan, dan pertambangan.
Data satelit menunjukkan di wilayah Aceh Tengah (Aceh) dan Kabupaten Tanggamus (Lampung), terjadi kehilangan hutan yang signifikan setiap tahunnya.
Kehilangan hutan di Tanggamus, contohnya, mencapai sekitar 1.418,44 hektare per tahun, sebagian besar disebabkan oleh ekspansi lahan untuk perkebunan kopi.












