Berita Terkini

Penetapan Ramadan Versi NU-Muhammadiyah dan Pemerintah

×

Penetapan Ramadan Versi NU-Muhammadiyah dan Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Oplus_16908288

SINARMERDEKA.CO-Bagi masyarakat awam penentuan awal bulan Ramadan 2026, menjadi pertanyaan soal kapan mulai puasa kembali ramai diperbincangkan umat Islam Indonesia.

Untuk penentuan awal Ramadan memang kerap berbeda karena metode yang digunakan organisasi keagamaan dan pemerintah tidak selalu sama.

Perbedaan tersebut lazim terjadi dan sudah menjadi dinamika tahunan di Indonesia.

Kendati demikian, esensi ibadah puasa tetap sama sebagai bentuk ketaatan umat Muslim.

Penetapan Awal Ramadan Versi Muhammadiyah

Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal.

Metode ini berbasis perhitungan astronomi mengenai posisi bulan dan matahari tanpa menunggu rukyat langsung.

Berdasarkan hasil hisab, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan tersebut biasanya diumumkan jauh hari melalui maklumat resmi organisasi.

Perkiraan Awal Ramadan Versi Nahdlatul Ulama (NU)

Nahdlatul Ulama menggunakan metode rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung bulan sabit awal Ramadan.

Pengamatan dilakukan pada tanggal 29 Sya’ban di berbagai titik pemantauan hilal.

Hingga kini, NU belum menetapkan awal Ramadan 2026 secara resmi.

Namun, berdasarkan kalender perkiraan, awal puasa diprediksi jatuh Kamis, 19 Februari 2026.

Penetapan Pemerintah Melalui Sidang Isbat Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama menentukan awal Ramadan lewat sidang isbat.

Forum ini menggabungkan data hisab astronomi dan hasil rukyat hilal dari berbagai wilayah.

Sidang isbat biasanya digelar pada akhir bulan Sya’ban sebelum Ramadan. Sidang Isbat penentuan Ramadan tahun ini rencananya akan digelar pada Selasa, 17 Februari 2026.

Perbedaan awal Ramadan di Jadwal Awal Ramadan 2026 berbeda versi bukan hal baru dan sering terjadi.

Hal ini dipengaruhi pendekatan ilmiah dan fikih yang berbeda dalam menentukan visibilitas hilal.

Yang terpenting, umat Islam tetap dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk. Ramadan menjadi momentum memperkuat spiritualitas, kebersamaan, dan kepedulian sosial di masyarakat.