Stigma Sosial Jadi Penghambat Utama Pengobatan Kusta
Kecamatan Serang Baru, Bekasi – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin kembali menegaskan bahwa kusta bisa sembuh. Penyakit yang selama ini dikaitkan dengan kutukan itu justru dapat diatasi sepenuhnya jika ditemukan sejak dini dan segera terobati.
“Obat kusta tersedia gratis. Tapi banyak orang takut lapor karena khawatir mendapat banyak ejekan. Mereka lebih memilih diam, padahal risiko penularan dan disabilitas bisa meningkat,” ujar Menkes Budi saat meninjau penguatan program eliminasi kusta di Kabupaten Bekasi, Selasa (23/7).
Perbedaan Penularan Kusta dan COVID-19
Lebih lanjut, Menkes menjelaskan bahwa penyakit kusta tidak mudah menular. Dibutuhkan kontak yang sangat erat dan dalam waktu lama agar penyakit ini berpindah. Berbeda dengan COVID-19, yang bisa menular hanya lewat percakapan.
“Kalau kusta, kalau pasiennya sedang minum obat, tidak akan menularkan. Jadi jangan takut berdekatan,” tegasnya.
Pengobatan Gratis dan Pencegahan Efektif
Pemerintah sudah menyediakan pengobatan enam bulan secara gratis. Selain itu, keluarga terdekat pasien yang terdeteksi akan diberikan obat pencegahan cukup dengan satu kali minum. Langkah ini terbukti efektif memutus rantai penularan.
Dukungan Pemprov Jabar dan Insentif Kesehatan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang hadir dalam kunjungan tersebut menyatakan bahwa stigma masih menjadi musuh utama. Ia menyoroti bahwa kusta kerap muncul di kalangan masyarakat miskin.
“Kita bantu juga kebutuhan gizinya. Kalau keluarga penderita butuh uang untuk makan sehat, saya kasih bantuan satu juta rupiah per bulan,” ucap Gubernur Dedi.
Lebih dari itu, ia mendorong skema insentif bagi tenaga kesehatan. Bila seorang perawat mendampingi lima pasien hingga sembuh, maka ia akan diberi bonus Rp10 juta. “Jangan cuma bicara pengabdian, tapi tanpa penghargaan,” tambahnya.
Prioritas Kesehatan di Desa dan Lingkungan Sehat
Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang menegaskan bahwa pihaknya akan memprioritaskan pembangunan berbasis desa. Ia berkomitmen memperbaiki lingkungan dan rumah tidak layak huni milik pasien kusta.
“Kita mulai dari desa, dari sanitasi, rumah sehat, sampai data presisi. Kalau rumahnya rusak, kita bantu rehab,” ujarnya.
Data Kasus Kusta dan Kolaborasi Multisektor
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, dr. Alamsyah, menyampaikan bahwa per Juni 2025 terdapat 121 kasus baru kusta, dengan mayoritas bertipe basah (Multibasiler). Bahkan, enam kasus terjadi pada anak-anak.
Ia menegaskan, kunjungan Menkes dan Gubernur menjadi momen penting untuk menggugah kesadaran publik dan menghapus stigma.
“Eliminasi kusta bukan tugas sektor kesehatan saja. Ini tanggung jawab bersama, dari pusat sampai desa,” tandasnya.












