Klaten Sinarmerdeka.com— Koperasi Multi Pihak Aset Digital Nusantara Garuda (KMP ADNG) tidak lagi sekadar bicara konsep. Di Jawa Tengah, koperasi berbasis aset digital ini mulai menancapkan fondasi industri pangan nasional. Pembangunan pabrik minyak goreng di Klaten menjadi sinyal keras: KMP ADNG siap mengambil peran strategis dalam menjaga dapur rakyat Indonesia tetap mengepul.

Langkah besar itu ditandai dengan serah terima minyak goreng Vege Token dari Ketua Kanwil Jawa Tengah KMP ADNG kepada Ketua Solo Raya. Prosesi tersebut berlangsung di gudang distribusi yang sekaligus disiapkan sebagai pusat produksi minyak goreng KMP ADNG. Dari titik inilah, rantai pasok pangan berbasis koperasi akan digerakkan langsung ke anggota, tanpa mata rantai panjang yang selama ini membebani harga.
Ketua Kanwil Jawa Tengah KMP ADNG, DR. Bambang Setiawan, menegaskan bahwa ini adalah kerja nyata, bukan pencitraan. “Pabrik sedang dibangun, armada distribusi kami siapkan, dan jaringan koperasi sudah bergerak. KMP ADNG hadir untuk memastikan rakyat tidak kesulitan mengakses kebutuhan pokok,” tegasnya. Ia menyebut, koperasi harus kembali menjadi alat negara untuk melindungi rakyat dari gejolak pangan.
Tak berhenti di minyak goreng, KMP ADNG juga mengonsolidasikan beras petani lokal dari Sragen dan Klaten untuk dipasarkan secara nasional. Skema ini memangkas dominasi tengkulak, memperkuat posisi petani, dan memastikan harga yang lebih adil. “Petani tidak lagi sekadar objek, tapi aktor utama,” ujar DR. Bambang.

Ketua Solo Raya KMP ADNG, Mas Gler, menyatakan Solo Raya diproyeksikan menjadi simpul strategis pangan koperasi di Jawa. “Kami sedang membentuk pengurus kabupaten dan kota se-Solo Raya. Ini gerakan besar dan sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia,” katanya. Dari Sragen, KMP ADNG siap menyuplai beras premium untuk kebutuhan nasional.
Lebih jauh, KMP ADNG menegaskan kesiapan menjadi mitra utama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Presiden Prabowo Subianto. Dengan pasokan minyak goreng dan beras yang terkonsolidasi, koperasi ini membidik peran kunci dalam pemenuhan kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.
Melalui koperasi multipihak, industri produksi sendiri, dan jaringan distribusi nasional, KMP ADNG sedang membangun arsitektur pangan kerakyatan. Bukan sekadar bisnis, melainkan gerakan strategis: memastikan pangan dikelola rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat—langsung dari sawah dan pabrik, ke meja makan bangsa.












