HeadlineInfo Daerah

Feberman Telaumbanua Merangkai Keterbatasan Digital di Pulau Nias

×

Feberman Telaumbanua Merangkai Keterbatasan Digital di Pulau Nias

Sebarkan artikel ini

SINAR MERDEKA – Gelombang digitalisasi kini menerjang dunia pendidikan. Sekolah-sekolah mulai memperkenalkan koding dan kecerdasan artifisial sebagai keterampilan abad ke-21.

Anak-anak di kota besar menyambutnya dengan fasilitas memadai, mereka terbiasa menggunakan komputer dan gawai canggih dalam pembelajaran. Namun, cerita berbeda datang dari Pulau Nias.

Infrastruktur internet yang belum merata, perangkat terbatas, dan banyak guru yang masih harus beradaptasi dengan kurikulum baru.

Apakah pelajar di daerah 3T seperti Pulau Nias bisa mempelajari koding dan kecerdasan artifisial, seperti teman-teman mereka di perkotaan yang memiliki fasilitas lengkap?

Seorang pendidik asal Nias, Feberman Telaumbanua, melihat keterbatasan sebagai ruang untuk berinovasi.

Berangkat dari keterbatasan:

Ia percaya bahwa koding dan kecerdasan artifisial tidak harus diajarkan dengan perangkat canggih.

Baginya, menanamkan pola pikir logis pada anak sejak dini jauh lebih penting.

“Koding tidak selalu dimulai dari laptop atau komputer. Anak-anak dapat belajar berpikir logis melalui permainan, cerita, bahkan pengalaman sehari-hari.”

“Itu yang saya sebut cara kreatif belajar digital,” ujar Feberman dalam keterangannya, Kamis 25 September 2025, pagi.

Feberman menegaskan bahwa kita tidak perlu takut pada kecerdasan artifisial.

Ia melihat teknologi ini justru membuka ruang baru dalam dunia pendidikan, asalkan kita menggunakannya dengan bijak dan mengenalkannya secara tepat kepada peserta didik.

“Jangan melihat AI hanya sebagai teknologi rumit. Yang utama adalah bagaimana kita menggunakannya untuk melatih logika dan kreativitas anak. Itu yang harus kita perkenalkan sejak dini,” katanya.

Di sekolah tempatnya mengajar, Feberman sering memanfaatkan kegiatan sederhana untuk menanamkan konsep koding.

Ia pernah meminta siswa menyusun langkah-langkah menyiapkan sarapan atau permainan tradisional seperti engklek sebagai simulasi algoritma.

Anak-anak belajar bahwa setiap langkah harus urut dan logis agar tujuan tercapai, persis seperti logika pemrograman komputer.

“Jika pola pikir logis sudah terbentuk, teknologi secanggih apa pun akan lebih mudah mereka pelajari nanti,” ujarnya.

“Anak-anak di Pulau Nias punya potensi yang sama, kita hanya perlu mengarahkan mereka dengan cara yang kreatif,” ungkapnya penuh keyakinan.

Berbekal dari semangat kesetaraan:

Feberman percaya, anak-anak di daerah 3T berhak memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal koding dan kecerdasan artifisial, meskipun mereka tidak memiliki perangkat yang sama dengan pelajar di kota.

“Kesetaraan dalam pendidikan digital itu penting. Anak-anak di kota dan di pulau harus sama-sama bisa belajar koding dan AI. Bedanya hanya di fasilitas, tapi pola pikir dapat kita bentuk di mana saja,” tutur Feberman.

Feberman telah menunjukkan kiprahnya di berbagai ajang.

Ia pernah meraih nominasi Guru Kreatif Acer Smart School 2024, menulis buku pendamping siswa “Koding dan KA”, serta masuk dalam sepuluh besar Guru Inovatif Kategori SD Jambore GTK DKI Jakarta.

Ia juga dikenal sebagai Sahabat Teknologi DKI Jakarta 2024, Scratcher Edukator, hingga peraih juara pertama Lomba Video Kreatif Pengajar Merdeka Gemilang.

Kiprahnya semakin nyata dengan berbagai undangan sebagai pembicara atau narasumber di berbagai forum, khususnya terkait topik koding dan kecerdasan artifisial.

Ia juga dinobatkan sebagai Peserta Favorit dalam ajang berbagi praktik baik di Guru Mengajar dan Diklatmandiri.id, serta aktif menulis di Surat Kabar Guru Belajar.

Semua pencapaian ini membuktikan bahwa gagasan yang ia sampaikan berakar dari pengalaman nyata sebagai pendidik yang terus berinovasi.

Terus membangun optimisme:

Bagi Feberman, masa depan pendidikan digital di Nias bukanlah hal mustahil.

Selama guru dan pelajar bersedia membuka diri dengan cara kreatif, keterbatasan tidak lagi menjadi penghalang.

“Saya yakin, dari Nias juga dapat lahir anak-anak yang menguasai koding dan kecerdasan artifisial. Kita hanya butuh keberanian untuk mencoba dan kesediaan untuk berinovasi,” ujarnya menutup perbincangan.

Optimisme itu kini menjadi energi baru. Dari Pulau Nias, Feberman Telaumbanua menunjukkan bahwa pendidikan digital bukan hanya milik kota besar.

Dengan cara kreatif, ia membuktikan bahwa pelajar di kepulauan pun dapat melangkah sejajar menghadapi tantangan era digital. (rls/ful)