SINARMERDEKA.Co,Oleh: M Iksan – Ketua Forum Wartawan Jaya Indonesia (FWJI) Korwil Depok
Fenomena jurnalis yang pasif dan kehilangan daya kritis kini makin marak. Di lapangan, masih banyak wartawan yang hanya menjadi perpanjangan tangan narasumber, khususnya pemerintah, tanpa melakukan pendalaman atau pengujian terhadap informasi yang diterima.
Jurnalis, media, serta pemerintah daerah – dalam hal ini Pemkot Depok – menjadi pihak yang terlibat langsung dalam praktik hubungan informasi yang sering kali timpang. Banyak jurnalis yang mengaku terpaksa mengikuti arus demi menjaga keberlangsungan ekonomi pribadi maupun medianya.
Kondisi ini berlangsung setiap hari dalam dinamika peliputan di berbagai daerah, termasuk Depok. Terutama dalam peliputan kebijakan pemerintah yang minim kritik dan terlalu banyak “pujian”.
Sikap jurnalis yang tidak kritis membuat publik kehilangan sumber informasi yang independen dan terpercaya. Bila wartawan hanya menyajikan berita “apa adanya” tanpa analisis atau keberimbangan, maka peran jurnalis sebagai watchdog demokrasi runtuh. Yang lebih mengkhawatirkan, ada wartawan yang memilih diam terhadap skandal demi mempertahankan hubungan baik dengan narasumber yang memberi pemasukan.
Jurnalis seharusnya memegang teguh sembilan elemen jurnalisme sebagaimana yang diajarkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran, bukan kepada kekuasaan. Loyalitas utama jurnalis adalah kepada publik. Maka, jika ada kebijakan pemerintah yang bermasalah, wartawan wajib memberi ruang bagi kritik yang konstruktif dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.
Dalam proses kerja jurnalistik, tahap mengetik berita justru menjadi bagian paling akhir. Sebelumnya, jurnalis wajib melakukan perencanaan, riset, dan peliputan yang tajam. Wawancara pun harus dilakukan secara aktif dengan pertanyaan kritis, bukan hanya mencatat jawaban narasumber.
Untuk kembali menjalankan peran sebagai pengawas, jurnalis harus bebas secara ekonomi dari ketergantungan terhadap sumber informasi. Media juga harus independen dari intervensi politik agar ruang redaksi tetap menjadi tempat subur bagi keberanian dan integritas. Tanpa keberanian, maka jurnalisme hanya akan menjadi alat kekuasaan.
Mari kita ingat kembali: jurnalis bukan juru ketik. Jurnalis adalah penyambung suara publik. Maka jangan jadikan profesi ini jinak oleh kenyamanan atau tekanan. Jadilah anjing penjaga demokrasi, bukan anjing peliharaan penguasa.
Salam Satu Pena!












