Jakarta – Menteri Perdagangan Amerika Serikat, Howard Lutnick, terus menjajaki strategi anyar. Ia mempertimbangkan langkah berani dengan mengambil saham ekuitas di perusahaan chip penerima dana Undang-Undang CHIPS. Rencana itu diyakini bakal mengubah peta kekuatan teknologi global.
Ekuitas untuk Perusahaan Chip Raksasa
Lutnick memfokuskan langkah pada Intel, Micron, Samsung, dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC). Meski belum semua dana cair, pemerintah ingin menukar hibah tunai dengan kepemilikan saham. Strategi ini dinilai bisa memberi pengaruh langsung ke arah bisnis perusahaan semikonduktor besar.
Gedung Putih Beri Restu
Sekretaris Pers Karoline Leavitt menegaskan, Presiden mendukung ide tersebut. Menurutnya, pemerintah ingin menempatkan kebutuhan nasional di depan segalanya. Baik faktor keamanan maupun ekonomi masuk dalam perhitungan. “Ini langkah kreatif yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.
Intel Jadi Fokus Utama
Kesepakatan awal yang tengah diproses yakni akuisisi 10 persen saham Intel oleh pemerintah. Meskipun Lutnick menegaskan bahwa Washington tidak akan ikut campur soal manajemen operasional, langkah ini disebut sebagai babak baru pengaruh negara terhadap korporasi teknologi raksasa.
Tradisi Lama, Sentuhan Baru
AS pernah mengambil saham di perusahaan lain saat krisis demi menjaga kepercayaan pasar. Namun kali ini konteksnya berbeda. Alih-alih sekadar menyelamatkan, pemerintah berusaha memastikan pembangunan pabrik chip berjalan sesuai kepentingan nasional.
Subsidi Jumbo untuk Pabrik Chip
Departemen Perdagangan mengelola dana sebesar 52,7 miliar dolar AS dari Undang-Undang CHIPS. Dana itu sudah mengalir, antara lain 4,75 miliar dolar untuk Samsung, 6,2 miliar dolar untuk Micron, dan 6,6 miliar dolar untuk TSMC. Semua untuk mendukung riset serta pembangunan fasilitas semikonduktor.
Trump dan “Saham Emas”
Awal tahun ini, Donald Trump menyetujui akuisisi U.S. Steel oleh Nippon Steel dengan syarat adanya saham emas. Mekanisme itu memastikan janji investasi tetap jalan dan pabrik di AS tidak bisa berpindah sembarangan. Model ini dianggap mirip dengan konsep ekuitas yang kini diusung Lutnick.
Peran Menteri Keuangan
Scott Bessent, Menteri Keuangan, ikut dalam diskusi intensif. Namun, Lutnick memimpin penuh prosesnya. Sumber internal menyebut Trump menyukai gagasan ini karena sejalan dengan visinya menjaga kemandirian industri Amerika.
Negosiasi Ulang Subsidi
Pada Juni lalu, Lutnick menilai beberapa subsidi di era Presiden Joe Biden terlalu besar. Ia pun menegosiasikan ulang nilai bantuan agar lebih sesuai kebutuhan, sekaligus mendorong Micron meningkatkan investasinya untuk pabrik chip di dalam negeri.












