Berita TerkiniHeadline

BMKG Peringatkan Potensi Karhutla Riau, Operasi Modifikasi Cuaca Jadi Langkah Pencegahan Efektif

×

BMKG Peringatkan Potensi Karhutla Riau, Operasi Modifikasi Cuaca Jadi Langkah Pencegahan Efektif

Sebarkan artikel ini
Operasi Modifikasi Cuaca
Operasi Modifikasi Cuaca

Peringatan BMKG di Riau

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menegaskan perlunya langkah cepat. Sebab, sebagian besar wilayah Riau pada 26–28 Agustus masuk kategori bahaya tinggi hingga sangat tinggi.

“OMC terbukti sebagai instrumen paling efektif mencegah karhutla semakin luas. Dengan memanfaatkan potensi awan hujan, risiko kebakaran bisa termnimalisir sekaligus menjaga kelembaban lahan,” kata Dwikorita di Pekanbaru.

Data Cuaca dan Dinamika Atmosfer

Menurut BMKG, puncak musim kemarau di Riau mayoritas sudah terjadi pada Juni–Juli, sementara Indragiri Hilir baru mengalaminya Agustus ini. Pada dasarian III Agustus, curah hujan masih rendah di kisaran 20–50 mm per dasarian. Meski begitu, September diprediksi membawa peningkatan curah hujan hingga 75 mm per dasarian.

Namun, situasi tetap menuntut kewaspadaan. Gelombang atmosfer Rossby Ekuator tengah aktif di Sumatera utara–tengah, didukung suhu muka laut hangat di Selat Malaka. Faktor ini mendorong pembentukan awan hujan, meski kondisi atmosfer kering tetap memudahkan kebakaran hutan dan lahan.

Deteksi Titik Panas

Citra satelit Himawari-9 pada 24 Agustus pukul 16.00 WIB mendeteksi asap di Kalimantan Barat bergerak ke arah barat laut–utara. Pada hari yang sama, terpantau 1.003 titik panas di Indonesia. Dari jumlah itu, Kalimantan menyumbang 675 titik, sementara Sumatera, termasuk Riau, memiliki 38 titik panas dengan tingkat kepercayaan rendah, serta satu titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Efektivitas Operasi Modifikasi Cuaca

Dwikorita menyebut, Operasi Modifikasi Cuaca terbukti efektif. Contohnya, pada 19 Juli terdeteksi 173 titik panas di Riau. Setelah OMC beroperasi pada 21 Juli, jumlahnya turun drastis hingga nol titik panas pada 28 Juli. Bahkan, pada pelaksanaan OMC 10–19 Agustus lalu, wilayah rawan karhutla berhasil dijaga dengan catatan zero hotspot.

“Teknologi ini bukti nyata mitigasi bencana. OMC menekan risiko karhutla, sekaligus memastikan lahan tetap terjaga,” ungkapnya.

Peran Masyarakat dan Pencegahan Karhutla

Secara nasional, OMC di berbagai provinsi sejak Juli–Agustus menurunkan hujan dengan tingkat keberhasilan 85–100 persen. Lebih dari 586,1 juta meter kubik air hujan tercatat membasahi lahan dan menjaga kelembaban tanah di titik kritis.

Meski demikian, BMKG menegaskan kewaspadaan masyarakat menjadi kunci. Aktivitas berisiko, seperti pembakaran lahan atau membuang puntung rokok sembarangan, harus terminimalisir.

“Gotong royong semua pihak sangat penting. Operasi Modifikasi Cuaca bukan satu-satunya solusi. Dukungan masyarakat untuk menjaga lingkungan dari api menjadi benteng utama pencegahan karhutla,” tutup Dwikorita.